31 Oktober 2009

PEREKRUTAN ANGGOTA MENULIS 2009/2010

Dengan bangga,
kami dari Unit Kegiatan Mahasiswa Menulis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (UKMM - FIB UH), membuka kembali kesempatan bagi semua civitas akademika di fakultas ilmu budaya untuk bergabung dengan kami dalam

REALIS edisi 02
(Perekrutan Anggota Menulis - edisi 02)
Periode 2009/2010

Bagi anda "mahasiswa fakultas ilmu budaya" memiliki minat yang besar dan ingin mengembangkan bakat dalam bidang "jurnalistik dan kepenulisan", serta telah melewati masa pengaderan tingkat jurusan dan fakultas,
silakan bergegas mengunjungi sekretariat UKMM untuk mendapatkan Formulir Magang, pendaftaran dibuka mulai tanggal 2 November 2009.

Sekretariat UKMM FIB-UH:
Lantai Dasar gedung FIS V Ruang FIB 111

Contact Person:
Andhika Fachrozi (085255328004)




=======================
I WRITE THEREFORE I EXIST
=======================

23 Juli 2009

WORKSHOP KEPENULISAN


Tema Kegiatan
"Mengukir Sejarah Dengan Tulisan"

Lokasi :
Aula Mattulada (H33) Fakultas Ilmu Budaya - UNHAS

Waktu :
14-16 Agustus 2009

Materi :
1. Penulisan Puisi
2. Penulisan Prosa
3. Naskah Drama
4. Jurnalistik
5. Opini/essay
6. Penulisan Ilmiah
7. Skenario Film
8. Analisis Wacana


Pelaksana :
UKMMenulis FIB-U

Sponsor:
Froggy Digital Sablon

03 April 2009

Pensil Biru 2009: Lomba

KETENTUAN LOMBA

1. Mading
• Tim terdiri atas 3-6 orang
2. Karikatur
• Menggunakan kertas ukuran kuarto
• Bukan hasil cetak
• Menyertakan judul dan keterangan
3. Cerpen
• Times New Roman 12 Pt Spasi 1,5, 2-5 Halaman Kuarto
4. Esai
• Times New Roman 12 Pt Spasi 1,5, 2-3 Halaman Kuarto
5. Cipta Puisi
• Times New Roman 12 Pt
6. Design Sampul Kareba
• Diserahkan dalam format CorelDraw dan JPG
• Menyertakan Jargon Kareba (Media Bahasa, Sastra dan Budaya)
• Desain dengan ukuran A4

Nb. - Tema sesuai dengan tema acara (yang tertulis akan abadi sebagai pesona perlawanan) kecuali puisi tema bebas.
- Tidak mengandung unsur SARA
- Diserakan dalam bentuk file dan printout, kecuali karikatur dan mading
- Karya asli dan tidak pernah dipublikasikan
- Semua hasil karya menadji milik penyelenggara
- Keputusan tidak dapat diganggu-gugat.

cp:anti: 0852 4263 2472
formulir bisa didapatkan di sekretariat:
jl. perintis kemerdekaan km 10. Lantai dasar FIS V Ruang FIB 111, kampus UNHAS Tamalanrea Makassar..

31 Maret 2009

The Next Event

PENSIL BIRU
UKMM 2009


... coming soon ...

on April 2009




28 Februari 2009

ASSIKALAIBINENG; Seks dan Kosmologi Masyarakat Bugis



DAPATKAN SEGERA ...

Buku "ASSIKALAIBINENG; Kitab Persetubuhan Bugis"
karya MUHLIS HADRAWI

Hanya dengan Rp.55.000,-
Bagi anda yang berminat silakan menghubungi sekretariat UKMM FIB-UH

-- PERSEDIAAN TERBATAS --



10 Februari 2009

Wajah Semu dan Kau

Dingin menyibak helai kuduk yang bertengger di barisan pori sang ari
Hanya bisa menatap bayangan ranting yang selalu pasrah disandari dedaunan tua
Hanya bisa melihat kerlip bintang di antara gelap selimut malam
Hanya bisa nanar berdiri rapuh, kaku, lemah
Dalam hingar, dalam hampa
Dalam sakit menahan rindu berhari

Kau tahu???
Tawamu masih tertinggal di dahan hatiku
Seperti benalu_menghisap semua saripati rasaku_
Tentang kau…
Yang selalu berlari mengejar pongah inginku
Kau…
Yang tak pernah utuh hilang dari otak dangkalku

Mengenang, mengingat…
Wajahmu semu_kadang seperti nyata_
Larut dalam riak lemah titik banyu
penuh remang temaram neon tepi jalan kampus merah congkak

Entah!!!
Rinai air bersumpah serapah mengalir begitu saja
Dalam isak, tangis, gerutu, hampa
Entah!!!
Aku nyaris karam dalam rasa terpendam tak mampu ku gambarkan
Entah!!!
Gelisah…berharap…berpijak pada lantai rapuh
Kau nyata saat aku rindu padamu
Sigap menyembunyikan tubuhku dalam dekapanmu

Ada tangis dalam sedih…
Kau kini abstrak
Bersenyawa…bersenggama…bersetubuh…
Mendekam pada rupa khayal
Bernafas…berlari…berbisik
Kau…
Yang hidup dalam kenangan…dalam jejak masa lalu ku
Yach…!!!
Meski berkubik air mata membanjiri kantong di mataku
Kau tetap tak akan ada
Kau hilang
Dalam nyata...meski
Kau hidup
Dalam semu tentangmu dan kenanganmu
Selamanya…
…selamanya…
….selamnya…
Dengarkah kau…”aku mencintaimu!!!”


Anthy Arc
Minggu, 13 Juli 2008
03:17…pagi senyap

KRS (Kok Ribet Sich)

Setiap memulai awal perkuliahan mahasiswa akan kembali disibukkan dengan aktifitas seperti biasanya, membayar uang semester, dan mendaftarkan mata kuliah yang akan diprogram nantinya yang tercantum dalam KRS. Demikian halnya dengan aktivitas mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya di awal semester ini. Namun, mengapa pada tahun ini semua kesibukan tersebut terasa berbeda?

Tak heran rasanya jika pada tiap awal perkuliahan, ruang dekanat lantai dua tak pernah sepi dikunjungi mahasiswa. Bagaimana tidak, ruangan itu merupakan pusat dari seluruh aktivitas pengurusan KRS yang harus dijalani oleh semua mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang ingin melanjutkan kuliahnya untuk semester selanjutnya. Dengan jalan mengikuti sistem yang telah ditentukan yaitu mengisi Kartu Rencana Studi atau lebih akrab dikenal dengan KRS, para mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya berkerumun depan ruang dekanat lantai II untuk mengambil, mengisi, dan mengembalikan KRS.

KRS adalah kartu yang berisi daftar mata kuliah yang akan diikuti oleh setiap mahasiswa dalam satu semester. Dalam KRS tercantum data mahasiswa seperti : Nomor Induk Mahasiswa (NIM), Nama, Fakultas, Jurusan, Jumlah SKS yang diprogramkan, IP Sementara, dan Tahun Akademik, Kode Mata Kuliah, Mata Kuliah, dan jumlah SKS yang telah dilulusi. KRS menjadi bukti bahwa seorang mahasiswa terdaftar dalam semester yang ia ikuti. Jika tidak mengisi KRS maka, mahasiswa dinyatakan tidak terdaftar dalam proses perkuliahan yang sedang berlangsung. Seperti yang dialami Darmansyah “Saya pernah tidak mengisi KRS pada semester satu, walau saya ikut perkulihan, tapi nilaiku tidak keluar dan dinyatakan tidak aktif dalam perkuliahan” tutur mahasiswa Sastra Indonesia 07 ini.

Pengisian KRS tidaklah jauh berbeda dengan sistem sebelumya. Namun, pada tahun ini, terdapat beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan pengurusan tahun-tahun sebelumnya. Pada awal tahun 2009 ini, memulai semester genap, pengurusan KRS disertai dengan pengisian lembar komputer yang harus dibulat-bulati, layaknya kartu pendaftaran atau lembar jawaban SPMB. “Zaman sudah semakin maju, tapi pengisian KRS semakin manual” keluh Udhie Mahasiswa Sastra Prancis.

Pemberitahuan akan sistem ini sangat tidak memadai, sehingga mahasiswa tidak menyiapkan kelengkapan yang dibutuhkan seperti pensil 2B, penghapus dan peruncing pensil. Hal ini membuat mahasiswa harus naik-turun ke gedung dekanat lantai II untuk kelengkapan tersebut, belum lagi tandatangan Penasehat Akademik, Ketua Jurusan, dan Pembantu Dekan I serta fotokopi KRS. “Tambah ribet saja pengisian KRS kali ini, belum lagi di tempat fotokopi, yang harus antri dan berdesak-desakan” keluh Abduh Mahasiswa Sastra Inggris. Masalah pengisian KRS yang semakin ribet, Ahmad Rahim selaku kepala bagian (Kabag) Pendidikan menyatakan bahwa pengurusan KRS yang kali ini ditambahkan dengan lembar komputer merupakan kehendak dari pusat yang nantinya dimasukkan ke database. Hal ini bertujuan untuk mengetahui informasi lebih cepat dan aksesnya bisa dilihat diinternet. Ini juga menghindari kebocoran sebab sebelumnya sering terjadi ada yang sudah mengambil KRS tetapi belum membayar SPP. Sistem ini berlaku dihampir semua fakultas kecuali Fakultas Teknik yang telah lebih dulu menggunakan sistem jaringan software yang menghubungkannya dengan kantor pusat. “Jika hal tersebut juga diterapkan di fakultas ini, maka, pengisian lembar komputer tidak diadakan lagi dan pengembalian KRS seperti biasanya lagi” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Sedangkan Pembantu Dekan I Bidang Akademik Drs. M. Amir P, M.Hum menjelaskan sistem pengurusan KRS ini tidaklah meribetkan mahasiswa. Namun, sistem komputerisasi ini bertujuan untuk memudahkan mahasiswa dalam pengurusan KRS. “Adapun semester ini masih amburadul seperti itu, harus dua kali mengisi daftar mata kuliah yang akan diambil, tak lain karena sistem jaringan di Fakultas Ilmu Budaya masih belum stabil. Jadi, diusahakan semester depan, mahasiswa tidak lagi harus menggandakan KRS sebanyak lima kali dan mengkopinya dengan kertas berwarna. Tapi, hanya dengan mengisi lembaran komputer itu. Sepertinya sistem ini harus disosialisasi lagi agar tidak terjadi salah pengertian, dan Saya menyadari, sistem ini belum begitu efektif dan efisien. Namun, setidaknya dapat mengurangi beban pekerjaan petugas entri, mempermudah pengguna mengakses informasi dimanapun berada, memperlebar batas waktu pengisian KRS, serta mempercepat proses penyusunan pelaporan administrasi” jelas dosen Sastra Inggris ini. Sedangkan wacana tentang dikaitkannya sistem baru ini dengan diterapkannya undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP), menurutnya sama sekali tidak berhubungan. “Sebenarnya sistem ini sudah lama direncanakan dan bahkan sudah ada beberapa fakultas yang telah memakainya.” tuturnya.

Namun sistem komputer belum tentu bisa mempermudah pengurusan KRS, justru dengan adanya sistem ini malah membutuhkan banyak persiapan baik fasilitas maupun Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh Fakultas. Jangan sampai sistem yang baru justru lebih meribetkan dibanding sistem yang dulu.
(MG/Red)

09 Februari 2009

KUIS TITIK ; KOMA part 1

Apa tema TITIK ; KOMA pada edisi ke-2?

kirim jawaban anda beserta nim/stambuk dan no. telp/hp yang dapat dihubungi..
kirim ke email kami atau isi kolom 'MENULISLAH' pada sebelah kanan monitor anda...

20 Desember 2008

Produksi UKMM FIB-UH tahun 2008

Assalamualaikum Wr.Wb

Tidak terasa sebentar lagi kita akan melepas tahun 2008 dan menyambut harapan dan tujuan baru di tahun 2009, sudah banyak suka duka yang kami alami selama setahun terakhir ini, pengalaman yang manis maupun pahit, dukungan, kritikan, dan berbagai cobaan telah kami jalani bersama demi memenuhi kebutuhan sahabat akademia di Fakultas Ilmu Budaya khususnya akan kebutuhan informasi yang aktual dan faktual. Kami berharap agar eksistensi kami dalam dunia pers mahasiswa akan tetap terus bertahan hingga seterusnya, untuk itulah kami dengan segenap kerendahan hati sangat mengharapkan dukungan positif dari para pembaca demi perkembangan UKM Menulis FIB-UH.

Sebagai tanda terima kasih, pada kesempatan ini kami akan menyediakan download link yang berisi semua hasil produksi dari UKMM selama tahun 2008 berupa file PDF Newsletter KAMPUS dan Bulletin KAREBA yang dapat anda download langsung dari blog ini.

Selamat menyambut tahun baru 2009...

Newsletter KAMPUS:

Kampus ed. 01

Kampus ed. 02

Kampus ed. 03

Kampus ed. 04

Kampus ed. 05 (
temporarly not available)

Kampus ed. 06


Kampus ed. 07

Kampus ed. 08

Kampus ed. 09

Kampus ed. 10

Kampus ed. 11


Bulletin KAREBA:

Kareba ed. 01

Kareba ed. 02

Kareba ed. 03

Kareba ed. 04

28 November 2008

Puisi Akhir Hayat

Setiap makhluk pasti akan menemui ajalnya. Namun, tak satupun yang tahu kapan dan dimana ajal akan tiba. Siapa sangka, bahwa salah satu kawan kita Ashar menghembuskan nafas terakhirnya di Bantimurung Kabupaten Maros. Lelaki rasal Bone yang ternyata cukup puitis.

Sabtu itu,
sekitar pukul 06.30 pagi, beberapa saat setelah shalat subuh. Ashar bersama ketiga rekannya Awal, Sultan, dan Ardi meninggalkan villa dengan maksud sekedar jalan-jalan. Keempatnya berjalan menuju Gua Batu Bantimurung. Sekitar pukul 07.00 pagi mereka tiba di telaga. Saat itu Ashar memang sudah berniat berenang. “Dari awal keempatnya sepakat tidak akan ada kegiatan berenang karena melihat kondisi air yang mengalir deras dan hujan baru saja reda. Namun almarhum yakin kalau tetap beristigfar tak akan terjadi apa-apa pada mereka.” tutur Firman, mahasiswa Sastra Daerah yang juga sebagai Ketua Angkatan PSGBD sekaligus Ketua Panitia Study Wisata.

Pemandangan disana belum memuaskan menurut mereka, akhirnya mereka berjalan lagi ke atas, tepatnya di sekitar air terjun. Setelah melewati kuburan, gelagat Ashar memang sudah berubah. Ia banyak senyum dan diam, tidak seperti biasanya yang lumayan banyak bicara. Setibanya di sekitar air terjun, Ashar lalu menitipkan dompet dan kunci kamar kostnya kepada salah satu rekannya. Sedangkan telepon genggam almarhum sudah disimpan dalam tasnya semalam sebelum kejadian. Setelah itu, Ashar menggulung celana dan duduk di pinggir pusaran air. Setelah itu ia seolah hilang kesadaran, mungkin dipengaruhi oleh rasa kantuk sebab kurang tidur, Ashar lalu melompat ke pusaran air. Beberapa saat kemudian, Awal yang pandai berenang langsung melompat juga untuk memberikan pertolongan. Bahkan Awal pun sempat terbawa arus. Setelah Ashar melepaskan tangannya dari pundak Awal, akhirnya Awal pun bisa menyelamatkan diri sedangkan Ashar hanyut di pusaran air.

Pukul 08.00 pagi, Ashar dinyatakan meninggal. Tim SAR pun berdatangan. Tim SAR dari Maros yang pertama kali datang, tak mampu menemukan jenazah Ashar karena aliran air yang sangat deras. Setelah itu datang pula BASARNAS. Nanti setelah Tim SAR dari UNHAS tiba sekitar pukul 15.00 wita, mayat Ashar baru bisa ditemukan. Pada saat itu keluarga almarhum dari Bone juga sudah tiba di lokasi kejadian. Anehnya tubuh Ashar tidak seperti korban tenggelam. Tak ada air yang tertelan. Posisi mayat ditemukan dengan kaki di atas dan kepala pada bagian bawah. Keanehan lainnya lagi, pada pukul 08.00 pagi, di tempat yang berbeda, dua rekan Ashar melihat Ashar sedang membersihkan kamar kostnya. Kedua rekannya itu sempat menyapa Ashar namun yang disapa tidak mengubris sama sekali.

Setelah itu, mayat dilarikan ke rumah sakit Maros untuk di visum, sekitrar pukul 4 sore. Selesai divisum, mayat dipulangkan ke rumah almarhum di Kabupaten Bone. Teman-teman yang mengikuti kegiatan study wisata itu juga mengikut sekitar pukul 7 malam. Tak ada yang sempat kembali ke rumah masing-masing. Keesokan hari, setelah proses pemakaman selesai barulah mereka kembali ke Makassar.

Prof. Lukman selaku Ketua Program Studi PSGBD yang ditemui di kantornya yang berada di lantai II ruang 207 FIB Unhas, menyatakan bahwa kejadian yang menimpa saudara Ashar merupakan musibah yang tidak diinginkan. “Hal ini sudah dibicarakan dengan pihak keluarga maupun Pemerintah Provinsi yang bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya dalam penyelenggaraan PSGBD ini,“ ungkapnya. Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta dan satu pendamping yaitu sekretaris PSGBD, Muchlis Hadrawis. Ditanya mengenai kronologi kejadian, ia menyatakan bahwa kejadian ini terjadi pukul setengah tujuh pagi. “Konon kata teman Ashar, mereka berempat bersama Ashar berjalan-jalan ke atas di pinggir danau. Ashar yang sebelumnya pernah ke Bantimurung ingin mengajak mereka melihat sesuatu yang bagus. Teman-temannya mengatakan, dalam perjalanan itu Ashar terlihat aneh, ia seperti dikendalikan kekuatan di luar dirinya. Misalnya Ashar bertanya mana dua perempuan yang tadi lewat, sementara teman-temannya tidak melihat dua perempuan yang dimaksud Ashar. Sampai di pinggir danau, Ashar menurunkan kakinya ke air kemudian ia mulai berjalan ke arah danau. Padahal dalam kegiatan tersebut tidak ada acara mandi-mandi. Ashar kemudian berbalik dan tersenyum kepada teman-temannya sementara teman-temannya terus berteriak memanggilnya. Ashar lalu meloncat ke air dan terjadilah musibah itu,“. Pak Muchlis menambahkan bahwa ketika kejadian itu pihak keluarga langsung ditelepon begitupun pihak Fakultas. “Kejadian ini adalah musibah yang tidak diinginkan. Saya selaku ketua PSGBD bersama sekretaris PSGBD dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya telah membuat laporan tertulis kepada Pemprov selaku rekan penyelenggara PSGBD. Pihak keluarga pun telah ditemui dan mereka menerima hal ini sebagai musibah,” tutur Prof Lukman menutup wawancara.

“Saya diinformasikan oleh Ketua Jurusan PSGBD melalui telepon mengenai kejadian yang menimpa salah satu mahasiswanya pada saat itu juga. Karena pada saat itu saya sedang memberikan arahan dalam forum dekan di Jogja, bagaimana bertindak sigap untuk menyelamatkan korban dan mengkoordinasikan kepada Pembantu Rektor III untuk meminta bantuan berupa tim sar, ambulans, dan bus kampus untuk mengantar jenazah,” ungkap Dekan Fakultas Ilmu Budaya saat ditemui di ruang kerjanya.

Namun adanya proses pengkaderan yang dilakukan oleh PSGBD ternyata tidak diketahui oleh pihak himpunan. Aco selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah (IMSAD) menuturkan bahwa pihaknya bahkan tidak diundang ataupun diberitahu oleh pihak PSGBD mengenai adanya acara tersebut, walaupun pada dasarnya acara tersebut memang bukan acara himpunan.

Disamping itu, pihak dari IMSAD pun juga sudah pernah melakukan diskusi dengan sekretaris program studi PSGBD mengenai keberadaan program studi yang baru ini di himpunan. Berdasarkan hasil diskusi tersebut, menyatakan bahwa untuk tahun pertama PSGBD memang belum mau untuk bergabung dengan IMSAD karena suatu alasan. Namun, mereka juga mengatakan bahwa, untuk tahun depan, PSGBD mungkin sudah akan bergabung dengan IMSAD.

Walau ia telah tiada, tapi kenangan akan sosok pria yang cukup puitis ini tetap melekat dihati teman-temannya. Dibuktikan dengan karya puisinya tentang ‘arti sahabat’ yang sudah digandakan berkali-kali oleh teman-temannya. Karya Ashar ini bisa dilihat di Letra (Lembar Sastra) pada lembar terakhir Newsletter ini.
(MG001, 002, 004, MT)

09 September 2008

LUI

Akhir-akhir ini aku tak begitu suka pada matahari. Panas. Aku lebih menyukai Elektra yang marah-marah atau Thor yang sedang melempar-lemparkan palunya hingga langit bergemuruh. Artinya sebentar lagi akan hujan hingga semi semua yang seperti mati dari bawah kulit bumi.
Tapi jangan sampai Helios mengetahui keinginanku ini. Kalau ia tahu, ia bisa berang dan matahari akan bersinar sepanjang tahun sehingga mengancam penghidupan para petani. Sawah ladang akan mengering dan kita semua akan mati kelaparan.
Baru saja aku mau menutup pintu, seseorang dengan rambut berantakan tiba-tiba menerobos masuk. Seenaknya saja dia langsung telungkup di atas kasur. Punggung kemejanya basah oleh keringat. Tak lama kemudian suara dengkur halus terdengar mengisi kamar.
Aku masih berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Peristiwa seperti ini sudah seringkali terjadi. Dan lalu terbiasa. Makhluk satu ini memang menyebalkan, tapi ia punya kemampuan untuk membuat orang bisa menerima dia seperti adanya. Adanya Lui.
Aku masuk kembali ke kamar mengambil gelas, mengisinya dengan kopi, lalu menyeduhnya dengan air panas dari dispenser lalu meletakkannya di atas meja. Toples gula pasir dan krim kuletakkan di samping gelas. Ia lebih suka meramu sendiri kopinya. Sekotak bekal makan siang tak jadi kubawa. Biar ia yang menghabiskan. Kututup pintu pelan-pelan lalu kulanjutkan perjalanan yang tertunda. Kampus Merah.
* * *
Saat aku kembali dari kampus, ia sudah tak ada. Belakangan ini ia begitu sibuk sampai-sampai tak lagi punya waktu untuk sekedar mengobrol denganku, menceritakan mimpi-mimpinya, mendebatku soal feminisme dan tuhan, berkisah soal dosennya yang kadang membuatnya ingin mengamuk, tentang mantan pacarnya yang—menurutnya—tak tergantikan, dsb, dst, dll...kemudian mencandaiku, dan berakhir dengan kebiasaan buruknya mengucek rambutku sampai kacau.
Ia teman, kakak, dan guru bagiku. Hanya saja aku tak begitu mengerti dia. Pikirannya terlalu rumit tak terpahami. Aku berusaha membaca apa yang ia baca, mendengar apa yang ia dengar, membicarakan apa yang ingin ia bicarakan, tapi aku tetap tak paham. Setidaknya belum.
Sekarang aku jarang menemukannya di sudut-sudut fakultas. Biasanya ia duduk di mace-mace sambil mengobrol dengan siapapun yang ada didekatnya, atau merokok sambil membenamkan wajah di lembaran-lembaran koran. Dari kabar terakhir yang kudengar aku tahu kalau sekarang ia aktif di lembaga mahasiswa tingkat universitas.
* * *
”Percuma saja! Tidak ada gunanya berdiskusi terus-menerus membicarakan hal yang kita kira substansial tapi akhirnya cuma sampai diujung lidah. Sebuah aksi lebih mulia dibanding seratus kali diskusi tapi tak menghasilkan apa-apa. Untuk apa semua itu kalau hanya kita sendiri yang tahu? Hanya kita sendiri yang resah? Hanya kita sendiri yang merasa? Lalu mengapa tak coba kita ejawantahkan dalam tindakan?
Realisasi Badan Hukum Pendidikan akan membawa dampak yang tidak kecil buat mahasiswa seperti kita. Kuharap kita semua bisa pandai-pandai menyikapi perubahan-perubahan itu meskipun kita akan selalu menemukan jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang sama.
Pernahkah kau berpikir tentang nasib adik-adikmu setelah pemberlakuan BHP? Mungkin tidak. Sebentar lagi kau lulus dan tak usah repot-repot kau pikirkan tentang semua itu.”
Ia berhenti berbicara melihatku hanya diam memandanginya.
”Sudahlah. Lupakan kata-kataku.” Ia membuang puntung rokoknya yang terakhir lalu melangkah pergi. Tak kembali.
* * *
3 Desember
Setengah jam lagi Bu Fransisca akan masuk mengajar sementara tugasku belum selesai. Aku terpaksa meminjam laptop milik Feby, mengerjakan halaman-halaman PowerPoint sambil mendengarkan Apa Guna-nya Wiji Thukul.
”Masa lagunya lagu revolusi tapi tidak ikut aksi?” Ino berdiri disampingku sambil memain-mainkan pulpennya.
”Aksi apa?”
”Tadi ada aksi di tugu kampus, terus katanya nanti akan lanjut ke rektorat.”
Aku ingin sekali pergi. Pasti Lui ada disana. Tapi aku tidak bisa meninggalkan tugas presentasi ini.
4 Desember
Semalam aku menginap di kamar Awi mengerjakan tugas Seminar Pra Skripsi. Pagi-pagi kunyalakan TV sambil mengunyah pisang goreng. Pindah-pindah channel. Berita-berita yang hampir sama. Di channel 6, tanganku berhenti memencet tombol remote.
Aksi masahasiswa di kampus merah berakhir ricuh. Para mahasiswa bentrok dengan sekuriti kampus karena ingin menemui rektor untuk mengajukan penolakan terhadap pemberlakuan Badan Hukum Pendidikan di kampus mereka. Karena dihalang-halangi, mereka memaksa masuk ke dalam gedung rektorat....
Tak kupedulikan lagi gambar-gambar yang sedang menayangkan aksi saling dorong dan adu mulut antara mahasiswa dan aparat kampus. Kuambil ponsel lalu segera menghubungi nomor Lui. Tidak aktif.
Aku segera berangkat ke kampus, mencarinya di himpunan. Tidak ada. Aku berharap ia baik-baik saja. Satu-satunya mata kuliah hari ini kuikuti dengan setengah hati. Pikiranku terus tertuju pada Lui.
Pukul sepuluh aku kembali ke kamar kost sambil memaki-maki Lui dalam hati. Dia sering sekali membuatku khawatir dengan tindakan-tindakannya yang kurang bisa kuterima.
Pintu terbuka, dan sosok yang begitu kukenal sedang terbaring dengan posisi favoritnya. Telungkup. Kutemukan ponselnya tergeletak dalam keadaan lowbat diatas meja.
Tak jadi marah. Kubuatkan ia kopi dengan toples gula dan krim disampingnya. Lalu kututup pintu pelan-pelan, meninggalkannya sendirian. Saat ia bangun nanti, mudah-mudahan kopinya belum terlalu dingin
SasTRaTia (Edelweis.085)

GELIAT MANDOLING DI BIRING ERE

Kesenian tradisional masyarakat di suatu daerah merupakan identitas yang seharusnya dipertahankan oleh semua pihak, karena dengan adanya kesenian tradisional tentunya memberikan ciri identitas tersendiri kepada daerah yang memilikinya, meskipun kebanyakan kesenian tradisional tersebut adalah bentuk akulturasi dari kebudayaan yang terdapat di daerah lain, namun pada dasarnya hal tersebut patut dikatakan lestari.
Pada era sekarang kesenian seperti itu jarang dijumpai, sebab kurangnya generasi yang mau menerima maupun mempelajari kesenian tradisional yang ada di daerahnya tanpa adanya kontrak tertentu, di lain pihak penguasaan terhadap suatu kesenian tradisional hanya terdapat pada golongan tua di suatu daerah ditambah lagi hanya merupakan konsumsi bagi “se-angkatannya”.
Sumber akar masalah dari dilema ini berasal dari perkembangan teknologi yang tidak dapat dibendung oleh masyarakat lokal, yang telah memasuki wilayah kesenian tradisional yang secara tidak langsung dan dalam waktu yang lama merubah pola pikir masyarakat tradisional yang mencintai dan menghargai kebudayaan lokalnya menjadi masyarakat yang telah disibukkan oleh berbagai aktifitas yang berbau modernisme. Padahal jika kesenian taradisional semacam ini dapat dipertahankan kemudian dapat dimanajerial dengan baik niscaya ini dapat dijadikan aset besar bagi daerah.
Salah satu derah yang memiliki kebudayaan lokal dan khas yaitu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (PANGKEP) tepatnya di Kecamatan Bungoro Desa Biring Ere. Selain kekayaan hasil tambangnya, daerah ini juga kaya akan bukti budaya dari jaman pra sejarah. Budaya yang mewakili jaman pra sejarah ditandai oleh banyaknya gua atau leang yang berasal dari jaman mesolitik yang menempati sisi dan kaki di deretan kars Maros-Pangkep (temasuk desa Biring Ere).
Seiring dengan waktu, tibalah keanekaragaman budaya dan kesenian jaman sejarah, hal yang dapat memberikan alasan mengapa daerah ini memiliki banyak kesenian tradisional diantaranya adalah terdapat bekas pusat Kerajaan Siam di sekitar daerah ini, hal itulah yang merangsang bermunculannya kesenian-kesenian tradisional seperti tari-tarian sampai alat musik tradisional.
Hal lain yang yang mengindikasikan hal di atas adalah kehidupan sosial ekonomi sebagian masyarakat di kabupaten ini dulunya sampai sekarang adalah bertani, hal inilah yang melatarbelakangi berkembangnya berbagai macam kesenian seperti: gendong-gendong dan mandoling. alat musik inilah yang kemudian sering dipakai untuk memeriahkan acara-acara seperti pesta panen (mappadendang) yang merupakan salah satu acara besar di kalangan petani.
Karena diminati oleh warga sekitar, maka kemudian para pemain alat musik ini membentuk suatu komunitas yang terdiri dari beberapa personil yang menguasai alat musik tradisional tertentu, seperti: gambus, gendong-gendong, dan gendang. Dengan kolaborasi alat musik ini, kita akan mendapat instrumen yang khas dan unik dalam pementasannya. Namun sekarang group/orkes kesenian tradisional seperti itu sudah sangat jarang dijumpai di daerah ini.
Salah satu upaya mengawetkan kesenian tradisional yang ada di daerah ini dengan diadakannya “Revitalisasi Kesenian” oleh Pusat Studi La Galigo sebagai Divisi Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora pada Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasanuddin, sebagai program kerjanya yang telah diselenggarakan sejak tahun 2007 lalu. Untuk memaksimalkan program ini, maka diadakanlah kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat dengan cara mengikutsertakan ± 20 siswa dan siswi SMPN 2 Minasatene Pangkep sebagai peserta dalam kegiatan ini. Perkembangan kegiatan ini mulai terlihat dengan terdaftarnya kesenian-kesenian tradisional yang ada di daerah ini sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah ini.

SEPUTAR MANDOLING
Mandoling merupakan salah satu alat musik tradisional yang dapat kita jumpai di derah Pangkep, yang sangat disayangkan kita belum dapat mengidentifikasi asal-usul muncul dan berkembangnya alat musik ini secara pasti, hal ini tentunya membutuhkan tidak sedikit data sejarah untuk dapat mencapai tahap penafsiran seluk beluknya, namun yang dapat diidentifikasi adalah penggunaan alat musik ini sangat erat kaitanya dengan pesta-pesta adat seperti pernikahan (mappabotting), peresmian rumah baru (menre bola), pesta panen (mappadendang), kematian, aqiqah, dan acara-acara lain yang pada dasarnya membutuhkan hiburan.
Alat musik petik ini dapat dipadukan dengan dengan alat musik modern seperti biola, gitar, dan piano. Mandoling merupakan alat musik melodis karena dapat meniru semua nada dalam tangga nada sehingga dalam memainkannya kita dapat mengiringi semua aliran musik. Tidak ada kostum khusus yang harus digunakan dalam memainkan alat musik ini pada acara-acara tertentu. Secara umum tentunya memakai pakaian adat yang khas di daerah ini dan disesuaikan dengan momen pada suatu acara.
Secara umum bagian mandoling dapat digolongkan, menjadi:

o Badan
Panjang badan mandoling mendekati lengan orang dewasa dengan lebar satu jengkal orang dewasa sedang tebalnya 50% telunjuk orang dewasa, belum ditemukan indikasi yang menyatakan penentuan ukuran mandoling secara umum, yang pastinya pembuatan mandoling ini disesuikan dengan kebutuhan si pembuat. Bahan dasar bagian badan mandoling sebagian besar adalah tripleks yang diapitkan dari atas dan bawah. Sedang bagian rangka dari mandoling ini berbahan kayu tapi tidak memiliki spesifikasi khusus, yang penting ringan dan tahan lama. Keseluruhan bagian itu kemudian membentuk pola persegi panjang, sama dengan alat musik petik lain yang memiliki ruang untuk mengolah suara ketika senar di petik, sehingga pada bagian sisi atas mandoling terdapat lubang suara, sebagai tempat masuk dan keluarnya suara petikan mandoling. Oleh karena itu posisi lubang ini dibuat tepat di atas senar yang biasanya dipetik oleh pemain.

o Senar
Berbeda dengan gitar yang mempunyai 6 tali yang terdiri dari 3 tali melodis dan 3 tali bass dan berurutan dari bawah (tali melodis) ke atas (tali bass). Ukuran talinya pun berbeda beda, tali yang diameternya paling besar (bass) berada pada bagian atas gitar sedang tali yang diameternya paling kecil berada pada bagian bawah. Barangkali inilah esensi dari mandoling yang membedakannya dengan alat musik lain, sehingga artefak ini dikategorikan sebagai alat musik tradisional. Mandoling terdiri dari dari 3 buah tali yang besarnya sama (mirip tali gitar paling bawah), pada setiap ujung tali terdapat stem (penyetel) terbuat dari besi yang masing-masing tertanam pada bagian kiri mandoling, bagian itulah yang menjadi sumber sehingga ke-tiga tali mandoling ini memiliki suara yang berbeda. Yang perlu digarisbawahi sebelum memetik mandoling yaitu kita tidak dapat menggunakan jari ataupun kuku, sebab yang pertama karena senar yang terdapat pada alat musik ini ditarik sangat kencang dari arah berlawanan hingga tidak kendor, sehingga jari jika memetiknya akan terasa sakit, akibat lain yang ditimbulkan adalah suara yang dikeluarkan mandoling kurang nyata dan tidak merdu. Sebab kedua adalah jarak antara ketiga tali ini berdekatan kira-kira kurang dari 1 cm sehingga untuk memetiknya sulit. Oleh karena itu, pada ujung tengah kanan bagian mandoling ini diikatkan pick yang terbuat dari plastik elastis yang ukurannya disesuaikan, untuk mempermudah pemain sekaligus menutupi kekurangan jika menggunakan jari tangan sebagai pemetiknya.

o Cara Petikan
Bayangkan seolah olah kita mengipaskan suatu benda (kertas) pada lantai dengan tempo yang teratur dan pada akhirnya angin yang dibutuhkan teratur mengenai lantai tersebut, itulah cara paling mudah menguasai salah satu petikan dalam memainkan mandoling, dengan cara petikan ini dinamakan maju-mundur. Tempo petikan dalam memainkan alat musik ini tentunya harus tetap dalam artian tidak berubah-ubah, sehingga nada yang dihasilkan oleh alat musik ini seirama dengan syair lagu yang dinyanyikan.

o Syair Lagu
Pada hakikatnya alat musik ini bersifat sosial, artinya dia tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan alat musik lain, sehingga lagu daerah yang dinyanyikan diiringi secara bersama-sama dengan alat musik lain seperti, sahabat setianya yaitu gendong-gendong (katto-katto)­ dan instrumen lain seperti gendang, seruling, gambus dll. Pada dasarnya alat musik ini dapat dipadukan dengan dengan alat musik modern seperti biola, gitar, piano. Jadi Secara khusus tidak ada lagu yang diiringi oleh mandoling secara solo. (imran ilyas)

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Arkeologi angkatan 2005 Universitas Hasanuddin.
Tulisan ini adalah hasil laporan magang Revitalisasi Kesenian” oleh Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora pada Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasanuddin (dengan penyesuaian seperlunya).

06 September 2008

info magang


silahkan klik!!

23 Agustus 2008

Pengalih Fungsian Ruang Rapat KMFIB (eks-MAPERWA)

Lembaga tingkat manapun pasti membutuhkan wadah untuk bermusyawarah atau mengadakan rapat dan semuanya itu tidak akan berjalan lancar tanpa adanya fasilitas yang memadai, salah satunya adalah ruangan rapat. Adanya pengalih fungsian ruang rapat KMFIB-UH (EKS MAPERWA)yang dilakukan oleh salah satu HMJ memunculkan berbagai macam persepsi dari kalangan civitas akademika karena dinilai tidak melalui prosedur yang ada.

PIHAK
fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di FIB-UH memberikan tanggapan yang beragam terkait dengan status kepindahan sekretariat Ikatan Mahasiswa Sastra Daerah (IMSAD) ke ruangan KMFIB-UH (Eks MAPERWA) yang hingga kini masih menimbulkan tanda tanya.
Memet (nama panggilan) dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah (HUMANIS) angkatan 2007, saat ditanya perihal kepindahan sekretariat IMSAD ke ruangan yang sebelumnya adalah ruangan sekretariat Majelis Perwakilan Mahasiswa (MAPERWA) menyatakan ketidak setujuannya, ia menilai keputusan yang telah diambil oleh kawan-kawan dari IMSAD merupakan keputusan sepihak dan telah mengacuhkan keberadaan HMJ dan UKM lain yang juga bernaung di FIB-UH. Ia juga menambahkan bahwa ruangan yang dimaksud merupakan ruangan milik bersama, sehingga segala kepentingan yang berkaitan dengannya haruslah dibicarakan terlebih dahulu dengan melibatkan perwakilan dari setiap HMJ dan UKM se FIB-UH, dalam artian harus ada trasparansi.

Herlina yang ditemui di Himpunan Mahasiswa Sastra Arab (HIMAB) ketika ditanya hal yang sama menuturkan tanggapan yang serupa dengan tanggapan Memet di atas. Hanya saja ia menambahkan, bahwa IMSAD seperti HMJ dan UKM lain memiliki hak yang sama dalam memanfaatkan fasilitas kampus, asalkan ada konfirmasi yang jelas kepada pihak fakultas dan HMJ lain. “Siapa tahu ada yang jauh lebih membutuhkan dari mereka? Iyakan!”, tegasnya. Lain Herlina lain pula Aminude, salah seorang warga HIMAB yang ketika diminta tanggapan mengenai polemik pengalih fungsian ruangan ini, ia menuturkan bahwa ruangan Eks MAPERWA adalah milik bersama yang memiliki peran penting ketika diadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh civitas akademika se-FIB UH, misalnya rapat atau diskusi lepas. Dalam hal ini Senat Mahasiswa (SEMA) sebagai wadahnya, berperan penting dalam mensosialisasikan fungsi dan peran ruangan tersebut dalam membentuk kebersamaan di kalangan KMFIB-UH.

Sementara itu Ryan Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis (HIMPRA), ketika ditanya di tengah kesibukannya menuturkan bahwa, IMSAD sebagai salah satu HMJ di FIB-UH, sewajarnya memahami adanya prosedur-prosedur yang harus dipenuhi sebelum memutuskan untuk menempati ruangan tersebut, salah satu prosedurnya yakni dengan meminta persetujuan pihak fakultas dalam hal ini Pembantu Dekan II, SEMA dan HMJ/UKM lain. Ia juga menambahkan apabila semua prosedur telah dipenuhi, tidak ada hak baginya maupun pihak lain untuk melarang mereka menggunakan fasilitas tersebut. Azizah yang sementara ini menjabat sebagai Ketua Himpuan Mahasiswa Ilmu Sejarah (HUMANIS), kurang lebih juga berpendapat sama dengan tanggapan dari rekan-rekan di atas. Menurutnya, konfirmasi dan transparansi sangat diperlukan untuk menghindari timbulnya respon negatif dari pihak-pihak tertentu dikemudian hari.

Lain halnya dengan kedua HMJ yang merasa keberatan yaitu Keluarga Mahasiswa Arkeologi (KAISAR) dan Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris (PERISAI), pernah meminta ruangan tersebut secara prosedural namun tidak diberikan. “Kami pernah meminta kepada pihak fakultas agar diberi ruangan tambahan untuk tempat alat-alat lapangan namun tidak diberi, yah terpaksa kami buat lantai dua mini” terang Imran, wakil presiden KAISAR. Sementara dipihak PERISAI juga pernah melakukan hal yang sama, lembaga yang massanya paling banyak ini sudah pernah meminta agar himpunan diperlebar. “PERISAI pernah mempertanyakan status ruangan Eks Maperwa untuk pelebaran sekret PERISAI, namun terkendala pada sistem yang telah ditetapkan oleh fakultas” Ujar Fuad Hasan yang kini menjabat sebagai anggota Badan Pengawas dan Pemeriksa PERISAI (BAPPER).

Norpa, salah satu pengurus UKM CARITAS mengatakan bahwa kepindahan IMSAD tidak ia permasalahkan, asalkan ada izin dari yang punya (Fakultas). “Kalau memang sudah ada izin yang keluar dari pihak Fakultas, yah…no problem lah?”, ujarnya sembari tersenyum. Ditanya perihal kebenaran berita tersebut di atas, Burhan Kadir yang lebih akrab dipanggil Kanda Onel mengakui kebenaran berita tersebut. Ia mengakui bahwa ia dan rekan-rekannya dari IMSAD telah menempati ruangan tersebut selama kurang lebih 1 minggu. “Hanya ingin mencari suasana baru”, tuturnya saat ditemui di sekretariat barunya. Dengan sedikit gurauan ringan, ia menambahkan bahwa suasana di ruangan tersebut lebih nyaman dibanding sekret sebelumnya dan membuat mereka keterusan hingga akhirnya benar-benar pindah ke ruangan yang bernuansa semangka (hijau tua-merah-kuning) tersebut, walaupun belum ada SK yang keluar dari pihak fakultas. “Kalau memang pada akhirnya ada pihak-pihak yang ingin menggugat kepindahan kami, tidak masalah! Yang penting jelas, apa dan kenapa kami tidak diperbolehkan menggunakan ruangan ini”, ujar Mahasiswa Sastra Daerah angkatan 2003 ini. Intinya, mereka hanya ingin memanfaatkan ruangan yang sudah dua tahun tidak pernah difungsikan tersebut daripada membiarkannya rusak begitu saja tanpa pernah difungsikan.

Lembaga tingkat fakultas, dalam hal ini Senat Mahasiswa berpendapat bahwa seharusnya pemakaian tempat dikoordinasikan sebelumnya melalui rapat warga, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman antar warga KMFIB, karena persoalan pembagian ruangan seringkali jadi masalah yang kemudian dapat memicu konflik. “Sebenarnya sampai saat ini fungsi ruangan tersebut belum diatur secara tertulis” ujar senator dari HIMPRA.

Saat ditanya mengenai masalah tersebut, Pembantu Dekan II (PD II) FIB UH mengaku tidak tahu menahu mengenai adanya pengalih fungsian ruangan oleh IMSAD. Tidak ada konfirmasi terlebih dahulu dari IMSAD ke Pembantu dekan II, lagi pula adanya perpindahan tersebut bukan menjadi tanggung jawab PD II sepenuhnya. Dalam hal ini, PD II hanya memfasilitasi lembaga tingkatan fakultas, salah satunya dengan menyediakan ruangan untuk lembaga, adapun pembagiannya harus sesuai dengan prosedur yang ada dan tidak boleh ditempati tanpa adanya musyawarah dengan SEMA. Lain halnya dengan Pembantu Dekan III, saat diminta tanggapannya mengenai hal tersebut, PD III mengaku baru saja mengetahui hal tersebut. Menurutnya, seharusnya pihak IMSAD tidak melakukan pengalih fungsian ruangan secara sepihak, ada prosedur yang harus dipenuhi karena ruangan-ruangan yang ada telah tercatat dan telah memiliki SK sesuai dengan fungsi dan kepemilikannya di tingkat fakultas. Beliau mengatakan pula bahwa masalah ini harus diserahkan pada pimpinan Fakultas (DEKAN) bermusyawarah dengan lembaga yang ada.

Pada tanggal 15/08/2008 secara kelembagaan ketua IMSAD telah menghadap ke Pak Akin Duli selaku Pembantu Dekan III bidang kemahasiswaan dan menginformasikan mengenai kepindahan mereka ke ruangan rapat KMFIB. PD III menyarankan agar pihak IMSAD harus melakukan musyawarah dengan SEMA agar masalah ini tidak menjadi benang kusut dan memumculkan opini-opini negatif kedepannya. Dan berdasarkan informasi dari PD III kepindahan IMSAD ke ruangan senat hanya bersifat sementara karena mereka hendak melakukan pembenahan ruangan, dan jika pembenahan telah rampung mereka harus kembali ke ruangan yang telah mereka tempati sebelumnya. Menurut kedua Pembantu Dekan ini, masalah yang sebenarnya terjadi terletak pada komunikasi. Sebagai lembaga, apalagi terletak pada satu payung yang sama yaitu Fakultas Ilmu Budaya, baiknya tiap-tiap lembaga mempunyai rasa saling memiliki dan menghargai satu sama lain serta ditunjang dengan adanya transparansi komunikasi yang baik. Karena jika hal tersebut dapat diwujudkan, maka segala permasalahan yang muncul dapat diatasi dengan jalan yang baik.
(Mut, in, Anti/Anc, Rh,)

14 Agustus 2008

Pelecehan di Ruang Perkuliahan

AWAL Agustus lalu, seorang Mahasiswi Sastra Inggris FIB-UH merasa dilecehkan oleh dosennya pada saat mengikuti kuliah semester pendek (SP). Menurut pengakuan mahasiswi yang tidak mau disebut namanya tersebut, “Saya dirangkul dari belakang, dielus-elus, dan hampir….(maaf-red) dicium.” Ujarnya. Akibatnya ia lari keluar kelas dan menangis karena tidak terima dengan perlakuan tersebut. Saat diwawancara ia juga mengatakan bahwa sebelumnya beberapa temannya juga pernah mendapatkan perlakuan yang sama. Mereka menjadi merasa was-was untuk masuk di kelas dimana dosen tersebut mengajar.

Sebenarnya kasus seperti ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Hanya saja mereka tidak tahu harus melaporkan kemana, hanya menjadi obrolan antar teman dan selesai begitu saja. Kejadian-kejadian seperti ini terus-menerus berlangsung karena jangankan untuk mengekspos ke media, melakukan protes saja mereka tidak berani.

Beberapa hal pun menjadi pertimbangan untuk mendiamkan masalah ini. Mereka khawatir akan mendapatkan tekanan dari dosen yang bersangkutan, misalnya saja mereka takut kegiatan akademiknya akan diperhambat, takut mendapatkan nilai buruk, dan takut akan dipersulit pada saat penyelesaian studi. Beginikah kwalitas pendidikan kita?
(Rh/At)

Sema yang Semu

Lembaga kemahasiswaan merupakan wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan dan penciptaan kecendekiawanan serta integritas kepribadian untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi yang berkualitas. Perubahan dari BEM dan MAPERWA ke SEMA FIB-UH diharapkan menjadi wadah yang berkualitas pula.

Ada berbagai jenis lembaga mahasiswa, mulai dari tingkat universitas sampai tingkat jurusan, ada yang berbentuk eksekutif, legislatif, dan ada juga berbentuk pelaksana kegiatan kemahasiswaan terutama yang bersifat penalaran dan keilmuan di jurusan masing-masing seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Melihat kondisi lembaga kemahasiswaan saat ini, utamanya di tingkatan fakultas, berbagai macam yang sistem digunakan, ada yang berupa BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tapi ada juga yang telah merubah sistem seperti yang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya. Sejak Maret 2008 lalu, BEM dan MAPERWA (Majelis Perwakilan Mahasiswa) di fakultaas ini tidak dipergunakan lagi dan digantikan dengan Senat Mahasiswa.

Berawal dari diskusi dan diskusi yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa pemerhati sastra tentang keeksistensian MAPERWA yang sampai saat itu belum juga membentuk BEM, maka terbentuklah panitia pemilu raya dari hasil rapat warga tapi kemudian tidak lama setelah pembentukan kepanitiaan terdapat kendala, dikarenakan ketidak singkronan antara masa jabatan BEM dan MAPERWA. Maka pada saat itu, ketua MAPERWA mengundurkan diri dari jabatanya, dan di forum yang sama dibentuklah badan pekerja kongres luar biasa. Setelah melalui brain storming yang panjang dalam kongres luar biasa tentang sistem yang pantas digunakan di Fakultas Ilmu Budaya, maka lahirlah sebuah konsep berbentuk SEMA yang beranggotakan dari utusan HMJ dan UKM dalam lingkup Fakultas Ilmu Budaya dan disepakati oleh Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unhas (KMFIB-UH) tepatnya pada 2 April 2008.

Perubahan nama ini tidak dipermasalahkan oleh pihak Fakultas asalkan tidak melanggar peraturan universitas, “Menurut saya perubahan nama itu tidak masalah yang jelas orang-orang didalamnya mau bekerja dan programnya jelas serta yang terpenting adalah lembaga tersebut tetap mengikuti peraturan kelembagaan yang ditetapkan oleh pihak universitas” kata Pembantu Dekan III FIB-UH Drs. Akin Duli M.A. saat ditemui diruangan kerjanya.

Namun, Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (SEMA FIB-UH) masih memiliki PR yang besar untuk merubah paradigma lama yang terbangun dalam atmosfir berlembaga di KMFIB-UH. Sistem yang lalu berupa BEM dan MAPERWA, atau dikenal dengan demokrasi terpimpin yang kemudian digantikan dengan SEMA lahir dari kongres istimewa yang dilaksanakan selama lima hari empat malam. Sistem seperti ini masih kurang dikenal, yang kemudian harus dipahami bersama dan inilah yang menjadi tugas teman-teman yang duduk sebagai pengurus SEMA, karena dengan adanya sistem yang dipahami bersama, hal tersebut dapat mewujudkan kondisi kelembagaan yang kondusif.

“Sistem yang ada di SEMA sudah tepat dan sistem ini sudah dapat menjadi solusi dalam berlembaga ditingkatan Fakultas, berbeda dengan lembaga tingkatan fakultas yang lalu. Periode yang lalu sangat kurang orang-orang yang mau terlibat dalam lembaga tingkatan Fakultas. Koordinasi HMJ pun tidak terlalu berjalan dengan baik. HMJ terkesan lebih memilih untuk jalan sendiri-sendiri. Dengan adanya sistem baru sekarang yang berjalan dari bawah ke atas. Untuk menyalurkan kepentingannya, mereka harus berpartisipasi aktif. Tapi dalam pelaksanaanya, belum berjalan sesuai dengan konsep yang ada, utamanya saat mengadakan rapat dengan HMJ/UKM harus melihat kondisi mahasiswa, apakah libur atau tidak agar yang hadir juga banyak”. Ungkap Muh. Tahir yang saat ini menahkodai Himpunan Mahasiswa Sastra Arab (HIMAB).

Adapun menurut Ryan, yang sementara ini menjabat sebagai ketua HIMPRA, dia sepakat dengan pendapat Tahir bahwa sistem ini sudah tepat. Hanya saja, kendala dari sistem baru SEMA adalah penyadaran dari semua elemen Mahasiswa yang tidak terjadi karena tidak adanya pengawalan yang dilakukan orang-orang yang duduk di SEMA.

Ahmad Kadavi, ketua HIMASPA juga menambahkan bahwa SEMA bisa menjadi sesuatu yang dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan antar HMJ dan UKM se-Fakultas Ilmu Budaya, salah satunya adalah dengan menambah porsi kegiatan-kegiatan yang dapat melahirkan nafas persatuan.

Namun setelah berjalan kurang lebih lima bulan tebentuknya sistem baru di SEMA, ternyata belum sampai pula pada Gres Root. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara kami dengan beberapa Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya. Ternyata sistem ini hanya dipahami oleh elit-elit HMJ dan UKM saja. Bahkan sebagian dari narasumber mengaku belum tahu akan adanya pergantian sistem baru di KMFIB-UH. Salahsatunya Kamal (red) yang mengaku belum tahu-menahu tentang keberadaan SEMA. “ Sema itu apa?” tanyanya kepada teman sejurusannya. Ini menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh SEMA masih kurang efektif. Sehingga muncullah berbagai problem di KMFIB-UH, dibuktikan dengan adanya penarikan senator salah satu HMJ dan UKM yang berada di KMFIB-UH dari SEMA. Alasan utama mengapa lembaga tersebut menarik anggotanya dikarenakan sistem yang ada dalam SEMA masih belum jelas.

Hal ini membuktikan tidak adanya keseriusan pada tubuh SEMA untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Sampai saat ini SEMA masih tanda tanya besar??? SEMA seolah merupakan lembaga tingkatan Fakultas yang SEMU.

(Tim KAMPUS-red)

08 Agustus 2008

Membincang Pers Mahasiswa sebagai Gerakan Alternatif

Riuh perlawanan mahasiswa terhadap kenaikan BBM kini tak terdengar lagi. Kritik dan saran terhadap metode perlawanan mereka sempat mewarnai perbincangan di warung-warung kopi dan halaman-halaman koran. Namun, satu hal yang mutlak terlupa adalah: dimana gerangan Pers Mahasiswa dalam mengawal isu-isu kerakyatan tahun terakhir ini?

SEJARAH
tumbuhnya semangat nasionalisme masa kolonalisme Belanda dan tumbangnya dua rezim—orde lama dan orde baru—tak lepas dari peran pers mahasiswa. Masa kolonialisme Belanda pers mahasiswa digerakkan oleh Perhimpunan Indonesia, eksponennya adalah Moh. Hatta di Belanda bersama teman-temannya ketika menjalani pendidikan di sana. Masa orde lama digerakkan oleh aktifis-aktifis pers mahasiswa yang sebagian besar tergabung dalam organisasi pers mahasiswa IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) dan orde baru pers mahasiswa terus digalakkan oleh pers mahasiswa yang tumbuh bak jamur. Setiap periode pers mahasiswa mengalami tantangan dan keunggulan sendiri. Namun, satu yang khas dari gerakan pers mahasiswa: gerakannya tak pernah lepas dari gerakan mahasiswa. Antara pers mahasiswa dan gerakan mahasiswa tak mungkin dipisahkan.

Pers mahasiswa dan pers umum
Pers mahasiswa adalah pers yang dikelola mahasiswa. Tema pemberitaan pers mahasiswa adalah isu-isu aktual politik yang berkaitan dengan masyarakat, berbeda dengan “pers kampus” yang fokus pembahasannya adalah masalah dunia akademis dan spesifik keilmuan. Dalam perjalanannya, pers mahasiswa di berbagai periode selalu menjadi alternatif bacaan. Apa yang tak bisa diberitakan oleh pers umum (sebagai konsekwensi ketatnya peraturan kekuasaan mengenai pers) mutlak menjadi lahan yang subur untuk digarap mahasiswa. Yang paling hangat adalah fenomena pers umum di era orde baru. Masa ini pers umum mengalami masa suram. Pers umum mendapat tekanan yang berat dari pemerintah berkaitan apa yang harus dan tidak boleh diberitakan. Tak pelak lagi, beberapa terbitan umum harus dibredel karena melanggar apa yang diperingatkan penguasa masa itu. Masa inilah pers mahasiswa memiliki peran yang sangat besar dalam mengawal gerakan dengan tetap mengabarkan kebenaran kepada khalayak. Maka tidak berlebihan jika dikatakan, keberanian pers umum di era reformasi adalah buah dari suntikan keberanian dari pers mahasiswa.
Tapi satu watak yang tak mungkin hilang dari pers umum adalah: kompromitas terhadap modal dan kekuasaan. Maka tak heran jika banyak isu yang mesti mengalami pembelokan dalam pemuatannya. Sebut saja fenomema baru-baru ini: saat marak-maraknya isu kenaikan BBM, semua media memberitakan. Penyerbuan polisi ke kampus Unas, Jakarta, media umum tak mau ketinggalan. Namun, kekurangan dari pers umum adalah ketidak-konsistenan dalam mengawal isu sebenarnya: penolakan BBM. Media-media umum cenderung tergelincir dalam pemutasian isu. Protes mahasiswa cenderung dialihkan ke masalah kriminal. Kegusaran masyarakat karena kenaikan BBM tak mendapat tempat yang layak dan luas di halaman-halamannya. Dan sebagai pelengkap dari pengalihan isu adalah: kasus aksi kekerasan organ bersorban atas nama Islam kepada sesama muslim di area Monas, Jakarta.
Pers mahasiswa harus mampu melihat fenomena ini. Pers mahasiswa yang senantiasa turut mendukung segala gerak aktifitas gerakan mahasiswa, harus segera mengambil langkah taktis untuk kembali merancang metode alternatif untuk fenemona gerakan yang sepertinya mengalami kebuntuan dalam berjuang. Saatnya pers mahasiswa memberi bacaan alternatif di tengah-tengah bacaan yang hanya menguak permukaan.

Pers mahasiswa: alternatif gerakan mahasiswa
Sebagaimana gerakan mahasiswa yang meniscayakan perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas dan keberpihakan kepada korban atau tertindas, pers mahasiswa harus turut pula terus mengadvokasi—tak sekedar memberitakan—fenomena-fenomena kerakyatan. Aktifis-aktifis pers mahasiswa harus senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat—tak sekedar pemantau—untuk menangkap nuansa psikologis penderitaan yang dialami mereka yang terpinggirkan.
Diakui memang, masa reformasi ini adalah masa kebebasan bagi pers umum. Lahan pers mahasiswa kini telah “dicaplok” pers umum. Namun, dalam mengawal isu-isu kerakyatan pers umum belum teruji. Mungkin dari celah ini pers mahasiswa menyusun langkah awal untuk menyusun strategi. Selanjutnya menyusun metode penyebaran gagasan secara alternatif. Bagaimana mengolah berita alternatif, dan meng-counter berita-berita yang “tidak benar” oleh media umum.
Mengapa pers menjadi penting untuk diambil dalam melengkapi aktifitas gerakan mahasiswa? Selain karena terbukti dalam sejarah menumbangkan rezim, juga secara teroritis pers punya kemampuan menanamkan gagasan dan propaganda yang jitu kepada khalayak.
Pers mahasiswa mesti dijadikan perbincangan yang serius oleh mahasiswa saat ini. Bukan saja oleh mereka yang tergabung dalam unit-unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam pers mahasiswa, namun juga oleh mereka yang buntu dan hendak mencari metode alternatif dalam mengawal gerakan mahasiswa. Pers mahasiswa harus kembali dibangunkan.
Memang di tengah arus teknologi yang semakin berkembang pesat, pers mahasiswa mendapat tantangan berat. Justru di sinilah ujiannya. Bukankah semua itu punya peluang untuk dijadikan senjata? Media cetak, internet, dan lain-lain harus mampu dilihat sebagai senjata alternatif oleh mahasiswa.Usaha ini sekaligus pembuktian kepada masyarakat bahwa gerakan mahasiswa tak hanya turun ke jalan, namun juga mampu memperlihatkan tajinya dalam menebar gagasan lewat tulisan. Meski—harus ditegaskan kembali—antara gerakan “turun ke jalan” dan menulis tak harus dipisahkan dan dibeda-bedakan. Dua-duanya saling mendukung dan menopang. Masyarakat butuh diadvokasi, masyarakat juga butuh disuarakan. Sekaligus menyuntik gagasan kepada masyarakat terpinggirkan untuk “memberitakan dirinya sendiri”, apapun bentuknya.
Untuk itu, tiga hal yang senantiasa menyertai gerakan pers mahasiswa: diskusi, menulis dan aksi. Diskusi, baik internal atau pun eksternal, seputar fenomena actual harus senantiasa dilakukan. Menulis, sebagai lanjutan atau hasil dari gagasan diskusi, harus pula digalakkan. Dan aksi (dalam makna filosofis: bergerak bersama rakyat), sebagai bentuk pelibatan diri kepada massa rakyat, tak boleh tidak untuk dilakukan.
Pada akhirnya, pers mahasiswa pun harus terus menjadi koboy: membasmi bandit-bandit kekuasaan, untuk kemudian tanpa pamrih dan tanpa tendensi pada kekuasaan. Saatnya pena berbicara. Menulis apa yang tak terkabarkan. Mengabarkan apa yang menjadi kebenaran. Kebenaran dari sisi mereka yang tertindas, bukan dari mereka yang menindas.
Mahasiswalah, sebagai salah-satu kelas yang punya peluang dan ruang untuk berfikir dan menganalisa, yang harus menuliskan itu semua, karena seperti apa yang diteriakkan Pramoedya Ananta Toer: orang boleh pandai setinggi langit, namun selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah dan masyarakatnya. Menulis adalah untuk keabadian.
(Dedy Hermansyah)