Akhir-akhir ini aku tak begitu suka pada matahari. Panas. Aku lebih menyukai Elektra yang marah-marah atau Thor yang sedang melempar-lemparkan palunya hingga langit bergemuruh. Artinya sebentar lagi akan hujan hingga semi semua yang seperti mati dari bawah kulit bumi.
Tapi jangan sampai Helios mengetahui keinginanku ini. Kalau ia tahu, ia bisa berang dan matahari akan bersinar sepanjang tahun sehingga mengancam penghidupan para petani. Sawah ladang akan mengering dan kita semua akan mati kelaparan.
Baru saja aku mau menutup pintu, seseorang dengan rambut berantakan tiba-tiba menerobos masuk. Seenaknya saja dia langsung telungkup di atas kasur. Punggung kemejanya basah oleh keringat. Tak lama kemudian suara dengkur halus terdengar mengisi kamar.
Aku masih berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Peristiwa seperti ini sudah seringkali terjadi. Dan lalu terbiasa. Makhluk satu ini memang menyebalkan, tapi ia punya kemampuan untuk membuat orang bisa menerima dia seperti adanya. Adanya Lui.
Aku masuk kembali ke kamar mengambil gelas, mengisinya dengan kopi, lalu menyeduhnya dengan air panas dari dispenser lalu meletakkannya di atas meja. Toples gula pasir dan krim kuletakkan di samping gelas. Ia lebih suka meramu sendiri kopinya. Sekotak bekal makan siang tak jadi kubawa. Biar ia yang menghabiskan. Kututup pintu pelan-pelan lalu kulanjutkan perjalanan yang tertunda. Kampus Merah.
* * *
Saat aku kembali dari kampus, ia sudah tak ada. Belakangan ini ia begitu sibuk sampai-sampai tak lagi punya waktu untuk sekedar mengobrol denganku, menceritakan mimpi-mimpinya, mendebatku soal feminisme dan tuhan, berkisah soal dosennya yang kadang membuatnya ingin mengamuk, tentang mantan pacarnya yang—menurutnya—tak tergantikan, dsb, dst, dll...kemudian mencandaiku, dan berakhir dengan kebiasaan buruknya mengucek rambutku sampai kacau.
Ia teman, kakak, dan guru bagiku. Hanya saja aku tak begitu mengerti dia. Pikirannya terlalu rumit tak terpahami. Aku berusaha membaca apa yang ia baca, mendengar apa yang ia dengar, membicarakan apa yang ingin ia bicarakan, tapi aku tetap tak paham. Setidaknya belum.
Sekarang aku jarang menemukannya di sudut-sudut fakultas. Biasanya ia duduk di mace-mace sambil mengobrol dengan siapapun yang ada didekatnya, atau merokok sambil membenamkan wajah di lembaran-lembaran koran. Dari kabar terakhir yang kudengar aku tahu kalau sekarang ia aktif di lembaga mahasiswa tingkat universitas.
* * *
”Percuma saja! Tidak ada gunanya berdiskusi terus-menerus membicarakan hal yang kita kira substansial tapi akhirnya cuma sampai diujung lidah. Sebuah aksi lebih mulia dibanding seratus kali diskusi tapi tak menghasilkan apa-apa. Untuk apa semua itu kalau hanya kita sendiri yang tahu? Hanya kita sendiri yang resah? Hanya kita sendiri yang merasa? Lalu mengapa tak coba kita ejawantahkan dalam tindakan?
Realisasi Badan Hukum Pendidikan akan membawa dampak yang tidak kecil buat mahasiswa seperti kita. Kuharap kita semua bisa pandai-pandai menyikapi perubahan-perubahan itu meskipun kita akan selalu menemukan jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang sama.
Pernahkah kau berpikir tentang nasib adik-adikmu setelah pemberlakuan BHP? Mungkin tidak. Sebentar lagi kau lulus dan tak usah repot-repot kau pikirkan tentang semua itu.”
Ia berhenti berbicara melihatku hanya diam memandanginya.
”Sudahlah. Lupakan kata-kataku.” Ia membuang puntung rokoknya yang terakhir lalu melangkah pergi. Tak kembali.
* * *
3 Desember
Setengah jam lagi Bu Fransisca akan masuk mengajar sementara tugasku belum selesai. Aku terpaksa meminjam laptop milik Feby, mengerjakan halaman-halaman PowerPoint sambil mendengarkan Apa Guna-nya Wiji Thukul.
”Masa lagunya lagu revolusi tapi tidak ikut aksi?” Ino berdiri disampingku sambil memain-mainkan pulpennya.
”Aksi apa?”
”Tadi ada aksi di tugu kampus, terus katanya nanti akan lanjut ke rektorat.”
Aku ingin sekali pergi. Pasti Lui ada disana. Tapi aku tidak bisa meninggalkan tugas presentasi ini.
4 Desember
Semalam aku menginap di kamar Awi mengerjakan tugas Seminar Pra Skripsi. Pagi-pagi kunyalakan TV sambil mengunyah pisang goreng. Pindah-pindah channel. Berita-berita yang hampir sama. Di channel 6, tanganku berhenti memencet tombol remote.
Aksi masahasiswa di kampus merah berakhir ricuh. Para mahasiswa bentrok dengan sekuriti kampus karena ingin menemui rektor untuk mengajukan penolakan terhadap pemberlakuan Badan Hukum Pendidikan di kampus mereka. Karena dihalang-halangi, mereka memaksa masuk ke dalam gedung rektorat....
Tak kupedulikan lagi gambar-gambar yang sedang menayangkan aksi saling dorong dan adu mulut antara mahasiswa dan aparat kampus. Kuambil ponsel lalu segera menghubungi nomor Lui. Tidak aktif.
Aku segera berangkat ke kampus, mencarinya di himpunan. Tidak ada. Aku berharap ia baik-baik saja. Satu-satunya mata kuliah hari ini kuikuti dengan setengah hati. Pikiranku terus tertuju pada Lui.
Pukul sepuluh aku kembali ke kamar kost sambil memaki-maki Lui dalam hati. Dia sering sekali membuatku khawatir dengan tindakan-tindakannya yang kurang bisa kuterima.
Pintu terbuka, dan sosok yang begitu kukenal sedang terbaring dengan posisi favoritnya. Telungkup. Kutemukan ponselnya tergeletak dalam keadaan lowbat diatas meja.
Tak jadi marah. Kubuatkan ia kopi dengan toples gula dan krim disampingnya. Lalu kututup pintu pelan-pelan, meninggalkannya sendirian. Saat ia bangun nanti, mudah-mudahan kopinya belum terlalu dingin
SasTRaTia (Edelweis.085)